Kategori
Jurnal

Akhirnya Pakai WordPress Juga

Saat ini, saya memilih WordPress (lagi).

Bulan Maret 2011 menjadi mula perjalanan saya bersinggungan dengan dunia blog dan website.

Pada awal waktu, Blogger menjadi platform paling diminati saat itu. Bahkan mungkin bisa dibilang sampai sekarang. Tidak lain dan tidak bukan karena gratis. Tak perlu membayar sedikitpun.

Setahun ngeblog membuat saya kenal dengan HTML dan CSS. Lantas terjunlah saya dalam dunia blogazine, memadukan konsep blog dengan majalah (magazine).

Blogazine cukup ngetren waktu itu. Saya yang masih SMP belajar dengan salin dan tempel kode orang lain. Mengubah kodenya sambil memeriksa hasil visual dari kode tersebut. Satu demi satu.

Mengenal platform lain

Waktu itu bagi saya, salah satu hal yang membedakan junior dan senior dalam kancah per-blogging-an adalah platform yang digunakan.

Junior cenderung menggunakan platform Blogger dan senior cenderung menggunakan WordPress. Saya tidak mengerti apa bedanya. Katanya, kalau pakai WordPress bisa lebih fleksibel.

Kecanduan saya berjam-jam di depan komputer ternyata membuahkan hasil yang sedikit mencerahkan. Saya jadi tahu bedanya setelah saya mencoba WordPress di hosting gratis waktu itu.

Kalau tidak salah hosting-nya di IdHostinger, yang dulu sering problem di pengelola berkasnya. Sekarang sepertinya IdHostinger sudah tidak lagi gratis.

Satu poin yang saya mengerti waktu itu: WordPress lebih portabel.

Saya kemudian sadar akan suatu hal mengenai karakteristik sistem yang dikelola secara mandiri: lebih mudah diretas.

Setelah membaca berbagai artikel tentang WordPress, ternyata celah terbesar di mana blog-blog yang dibangun menggunakan platform tersebut diretas adalah melalui basis datanya: SQL injection.

Keamanan dan kepraktisan

Saya yang masih sangat awam waktu itu lantas tanpa pikir panjang mencari alternatif platform dengan kriteria berikut:

  1. bukan Blogger
  2. tidak memakai basis data
  3. portabel, mudah di-backup dan dipindahkan

Padahal sebenarnya Blogger juga lumayan protabel. Template dan isinya bisa diekspor-impor. Selain itu, Blogger juga sangat aman dari para peretas.

Entah mengapa saya tetap tidak suka dengan Blogger gara-gara salah satu stigma junior-senior yang saya buat-buat sendiri waktu itu. 😄

Singkat cerita saya akhirnya menemukan CMS yang tidak menggunakan database SQL. Disebut flat-file CMS, semua penyimpanannya memanfaatkan file teks biasa yang di-parse sewaktu akan ditampilkan.

Banyak flat-file CMS yang saya temui, salah satunya Mecha CMS buatan Mas Taufik Nurrohman. Saya sangat suka dengan Mecha. Ukurannya kecil, antarmukanya simpel, fitur sangat lengkap untuk standar flat-file CMS di masanya, dan mudah sekali di-backup.

Kriteria itu sangat penting karena waktu itu saya hanya bisa membeli shared hosting dengan kuota penyimpanan yang sangat pas-pasan: 300 MB.

Mecha cukup berkembang pesat sampai pada akhirnya mulai mengembangkan versi mayor lagi. Sayangnya versi terbaru tersebut melibatkan perubahan file dan folder yang cukup signifikan sehingga agak sulit bagi saya untuk menyesuaikan.

Perubahan seperti ini wajar terjadi di flat-file CMS. Ini juga terjadi di Kirby CMS yang berbayar.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata flat-file CMS kurang saya sukai. Terlebih ketika saya menyadari bahwa mereka cukup banyak memproduksi berkas-berkas teks yang di kemudian hari mungkin bisa menyulitkan saya ketika ingin migrasi atau sekadar memperbarui ke versi CMS yang lebih baru.

Bagi saya yang menyukai updated software, flat-file CMS kurang cocok.

Interaktif

Saya menyadari bahwasannya blog itu juga perlu dapat berinteraksi dengan pembaca secara bawaan melalui kolom komentar.

Haha, memangnya ada yang membaca blog ini?

Siapa tahu! Paling tidak ketika fitur itu dibutuhkan ada. 😁

Sayangnya flat-file CMS tidak terlalu mementingkan hal ini. Mereka cenderung menyarankan untuk menggunakan platform seperti Disqus untuk membawakan fitur ini.

Saya tidak suka sematan aneh-aneh di blog saya.

WordPress

Akhirnya nama ini muncul kembali.

Ekosistem WordPress harus diakui sudah sangat stabil melebihi platform-platform lain sejenis.

Menyunting blog, memperbarui CMS, integrasi sosial media, dan sebagainya mudah diaplikasikan tanpa ngoding.

Meskipun ngoding adalah bidang saya, rasanya kurang berarti kalau ngoding cuma untuk blog pribadi.

Saat ini, saya memilih WordPress (lagi). 😄

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *