Di Jogja dengan Trans Jogja

jurnal

Trans Jogja, angkutan umum yang memiliki slogan “Aman, nyaman, andal, terjangkau, dan ramah lingkungan” ini rupanya memang menjadi pilihan warga Jogja, wisatawan dalam maupun luar kota dengan konsep angkutan yang mirip Trans Jakarta. Mulai dioperasikan sejak awal Maret 2008 tentunya Trans Jogja ini sedikit maupun banyak telah mengalami perubahan yang tidak terlalu saya ketahui.

Bus Trans Jogja – aldinopegorino.blogspot.co.id

Baiklah, jujur saya bukanlah warga Kota Jogja, namun hanya warga yang masih tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan hanya sesekali datang ke Jogja. Dan kali ini saya hanya akan berbagi pengalaman dengan Trans Jogja ini saat mulai beroperasi—dan baru saja ini.

Ya, saya bukan orang yang banyak berwisata walaupun di sekitaran sendiri di Jogja ini. Saya hanya bisa mengungkapkan apa yang terjadi di depan mata saya saja dan tidak ada maksud lebih.

Saat Trans Jogja masih baru dan gres saya termasuk orang yang beruntung dapat menggunakan moda transportasi ini karena pada saat itu Allah telah memberi saya kesempatan untuk berkeliling kota Jogja. Dari awal itu saya belum pernah yang namanya merasakan naik bus dengan sistem/model seperti ini. Perasaan pertama yang melekat di hati adalah bangga, terbatin mirip kota metropolitan Jakarta.

Saya menaiki bus dengan waktu yang cukup lama sengaja untuk menikmati hal baru ini, padahal tujuan saya tidak jauh. Saya pun dibawa berkeliling kota dengan waktu sekitar satu jam. Nyaman memang, kursi empuk, ber-AC, tidak ada pengamen, tidak ada asap rokok, dan kecil risiko kecopetan. Petugas armada ini sopan, rapi, dan tidak asal-asalan. Teratur. Kaca bersih, bus masih klinyis, aksesoris utuh dan rapi.

Sampai tahun kemarin itu saya tidak pernah ke Jogja menggunakan bus kota, melainkan memakai sepeda motor yang menurut saya lebih praktis, dan urusan ke Jogja itu tidak terlalu berat dan melelahkan. Dan sekalipun ke Jogja dengan transportasi umum, kebetulan saya juga tidak menyapa Trans Jogja.

Nah, baru-baru ini saya ke Jogja dari rumah menggunakan bus umum dan kemudian melanjutkan perjalanan di Jogja dengan busway ini untuk tujuan refreshing.

Bus ini datang ketika saya di halte dalam keadaan knalpot ngebul. Saya agak merasa aneh dengan hal itu. Kemudian saya pun masuk bus tersebut, duduk biasa seperti orang-orang. Saat itu, ada satu wisatawan asing yang hampir jatuh karena bus terburu-buru berjalan. Itu sempat membuat heboh sesaat. Saya jadi mbatin, “Kenapa supirnya jadi agak kasar seperti ini, tidak seperti dulu yang terkesan berhati-hati terhadap penumpangnya? Ah, sudahlah”.

Saya kemudian transit di salah satu halte untuk menunggu bus lain dengan rute yang berbeda. Bus pun datang, kali ini tidak tampak ngebul seperti yang pertama tadi. Saya pun masuk setelah beberapa penumpang bus keluar untuk transit di halte tersebut dengan tujuannya masing-masing. Sayang kali ini saya tidak dapat tempat duduk. Semua bangku telah penuh. Alhasil saya hanya bisa berdiri dan berpegangan pada pegangan atas bus. Bus pun berjalan. Saya melihat sekeliling, dan nampak lampu atas dek tidak tertutup, kaca kusam. Anda tentu bisa membayangkan itu semua.

Kemudian bus yang saya naiki tersebut berhenti di salah satu halte. Dan pada saat itu, terlihat calon penumpang yang akan masuk bus saya tadi kecewa karena tidak jadi diangkut padahal telah bersesak-sesakan di halte tersebut. Kenapa? Karena di bus sudah tidak lagi ada tempat duduk, walaupun dalam bus tidak sesak namun ternyata pegangan atas bus bagian belakang semuanya copot, itu baru saya sadari saat itu. Petugas di dekat pintu bus itu berkata dengan nada yang agak kasar terhadap calon penumpang tadi. Saya tidak akan sebutkan bagaimana petugas itu berkata, bayangkan sendiri.

Bus itu pun kemudian berhenti di salah satu halte lagi. Saya kemudian transit di halte tersebut dan berganti bus lagi. Bus pun datang. Tidak terlihat ngebul dari kejauhan. Kemudian saya masuk dan kondisinya ‘alhamdulillah’. Bus itu terlihat terawat, rapi, dan petugasnya juga tidak seperti yang sebelumnya. Perjalanan dengan bus tadi memakan waktu sekitar 45 menit sebelum akhirnya saya turun di halte tujuan saya. Agak lama memang, karena saat itu arus lalu lintas memang ramai dan sempat macet di beberapa titik.

Ini hanya sedikit pengalaman saya saja. Tidak tahu bagaimana keadaan keseluruhan Trans Jogja sendiri. Semoga tetap terpelihara dan dapat diandalkan.