Salim Romadhon

Mas dan Mbak

Sapaan yang luwes.

Unsplash @mahda

Selama saya terlahir dan tinggal di Jawa, menurut saya kebanyakan orang Jawa itu santun dan ramah. Suka menyapa saat berpapasan. Minimal manthuk (mengangguk) sambil mesem (senyum). Kalau sudah lebih akrab atau memang orangnya supel, biasanya akan menyapa. Kalau sedang naik kendaraan, bisa dengan klakson.

Saya rasa tidak hanya orang Jawa yang begini. Setahu saya budaya orang belahan bumi timur memang santun dan ramah. Mungkin aksen atau istilahnya saja yang beda.

Kalau di Jawa, kami akrab dengan sapaan “Mas” dan “Mbak”. Sapaan ini lestari sampai saat ini meski banyak sapaan kekinian muncul: “Bro”, “Sis”, “Gan”, “Kak”, dan lain-lain. Memang ada kelemahannya. Sapaan mas dan mbak spesifik terhadap jenis kelamin. Mas untuk laki-laki dan mbak untuk perempuan.

Sapaan kak menjadi alternatif untuk mengakomodasi kedua jenis kelamin. Tapi bagaimanapun, menurut saya, mas dan mbak adalah yang terbaik. Dibanding kak. Mungkin perspektif kita beda mengenai ini. Tapi mas dan mbak, maupun kak, tetap sama-sama baik.

Di Jawa, mas dan mbak lebih luwes untuk digunakan. Sapaan ini mengandung unsur ramah sekaligus hormat terhadap lawan bicara.

Meskipun memang tidak cocok kalau sapaan ini kemudian dialamatkan oleh mahasiswa kepada dosen, suami kepada istri, anak kepada orang tuanya, dan lain-lain.

Tapi kembali lagi, dengan penggunaan yang tepat, sapaan mas dan mbak amatlah baik. Bahkan saat sapaan tersebut sifatnya opsional. Seperti orang tua kepada anaknya.

Saya pikir nanti saya akan memanggil anak-anak saya dengan sapaan ini. Saya pikir ini dapat mengajarkan mereka secara sederhana untuk menghormati orang-orang. Seperti guru-guru saya memanggil saya mas saat sekolah dulu.

Selain itu, saya juga merasa bahwasannya sapaan ini mampu menghadirkan aura kelembutan hati dari seseorang dan kasih sayang kepada lawan bicaranya. Saya yakin dengan membiasakannya, anak-anak akan lebih mudah untuk belajar lebih jauh bagaimana berempati, berdialog dengan baik, dan seterusnya.