Tidak Salat Jumat

Ilustrasi Novel Coronavirus

Hari ini, untuk kali pertamanya dalam hidup saya, setidaknya saat saya sudah bisa memahami situasi yang ada. Kami diimbau untuk tidak salat Jumat untuk mencegah penyebaran Novel Coronavirus (COVID-19) yang sudah sampai di Yogyakarta. Hari ini, saya mematuhi imbauan tersebut.

Sekolah-sekolah dan kampus-kampus sudah diliburkan sejak pekan lalu, namun ada juga yang baru diliburkan pekan ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya libur, melainkan diganti dengan pembelajaran daring—yang sepertinya tidak efektif. Siswa dan mahasiswa banyak yang mengeluh dengan malah membludaknya tugas yang mereka terima.

Sayangnya sampai saat ini masih banyak orang yang nampaknya tidak paham mengapa social physical distancing ini dilakukan. Nyatanya malah banyak orang memanfaatkan liburan ini untuk jalan-jalan atau kongkow dengan teman-teman.

Sayangnya juga, di sisi lain ada kelompok orang yang sudah mengerti namun memilih untuk ngeyel. Berdalih bahwa sakit dan mati adalah takdir Allah tanpa disertai ikhtiar mencegah penyebaran. Jadi, mereka memilih berserah dan tetap beraktivitas sebagaimana biasanya seolah tidak ada apa-apa.

Selain dua tipikal tersebut, ada kelompok orang yang memang tidak dapat lepas dari kontak fisik dengan banyak orang. Profesi menuntutnya demikian. Untuk Anda semua yang ada di kelompok ini, semoga Anda senantiasa diberi kemudahan rezeki dan kesehatan oleh Allah. Saya percaya bahwa kalau tanpa Anda, kami pasti akan kesulitan. Bahkan mungkin untuk kebutuhan dasar seperti makan dan minum.

Siapapun Anda, tetap hati-hati dan jaga kebersihan ya!

Mari berdoa bersama, semoga kita semua selalu dilindungi dari segala macam marabahaya. Aamiin. 🤲