Apapun yang Bisa Ditulis

Dahlan Iskan — rmol​beng​kulu​.com

Saya masih setia membaca bait-bait kata blog milik teman-teman yang saya langgan via aplikasi di ponsel saya, Aggregator namanya. Tulisan-tulisan mereka beragam gayanya. Ada yang santai, memakai bahasa sehari-hari, dan ada juga yang cenderung formal. Saya hanya membacanya tanpa pernah memberikan umpan balik dalam bentuk apapun. Terkadang tulisan mereka memotivasi saya untuk juga ikut menulis di sini. Berjalannya waktu, konstan memudar, kemudian hilang.

Beberapa bulan yang lalu, saya menemukan blognya pak Dahlan Iskan yang baru, setelah beliau sempat beberapa waktu vakum menulis karena sakit. Saya mengenal tulisan-tulisan beliau sejak isu mengenai gardu listrik yang menerpa beliau waktu masih menjabat sebagai menteri BUMN. Waktu itu, tepatnya saat ada isu itu, beliau membuat blog, namun bukan untuk catatan hariannya, melainkan tulisan-tulisannya yang berisi bantahan atas tuduhan kepadanya.

Membaca tulisan-tulisan pak Dahlan di blognya yang baru, saya merasakan seolah-olah bagaimana beliau mudahnya mendapatkan bahan untuk ditulis, sampai membayangkan bagaimana katanya tangan beliau sampai gatal kalau tidak menulis. Pak Dahlan membuat saya rindu. Rindu untuk kembali menulis. Semoga Anda selalu dilimpahi kesehatan oleh Allah SWT, Pak.

Dulu saya pernah menulis mengenai standar penulisan di blog ini, mengenai tulisan yang bahasanya harus baku, yang harus patuh terhadap EYD1, dan standar-standar lain yang sebenarnya tidak penting untuk tulisan yang karya ilmiah pun bukan. Menetapkan terlalu banyak standar membuat sangat tidak produktif.

Setelah sekian lama untaian kata yang tertulis tidak muncul, tulisan ini saya tekadkan menjadi titik balik untuk kembali aktif menulis di sini. Apapun yang bisa ditulis.


  1. Kini EYD diganti dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). 

⚑ Tanggapan