Bergumam

Cuaca memang sedang tidak bersahabat. Rasanya tidak cocok untuk berkeliling, main. Di langit terdengar seperti sesuatu yang sedang beradu. Asap mengepul perlahan dari ladang tetangga yang apinya padam terguyur derasnya hujan, sedikit mengoyak duduk santainya di beranda rumah, di teras. Secangkir kopi dan roti tawar yang baru dibelinya kemarin menjadi temannya. Tak ketinggalan sarung untuk melingkupi tubuhnya yang kedinginan. Duduk sendiri sepulang dari madrasah, mengingat apa yang tadi disampaikan oleh gurunya soal carut marut “Dunia-mu, Nak!”.

Ya, baginya sekolah tidak sekedar mengenal apa yang harus ia kuasai dalam bidang akademik. Namun ia lebih suka menganggapnya sebagai sebuah media untuk lebih mengenal lebih lanjut tentang dunia ini, mengenal apa yang seharusnya bisa ia lakukan, ia kerjakan. Selama 16 tahun, selama ini pula kebanyakan orang menganggap sewaktu duduk di bangku sekolah, mereka hanya mencari tujuan hidup yang praktis.

Baru jam empat sore, langit hitam serasa sudah malam, semakin dingin. Ia kemudian teringat di perjalanan sepulang sekolah tadi siang sewaktu langit masih cerah. Memang sekarang ini cuaca sulit ditebak. Satu jam cerah terik, satu jam lagi hujan deras. Ia melihat tingkah orang sakti yang ambisius menyaingi si ‘Rossi’ yang sedang berlaga, dengan kostum putih-abu bersama motornya. Tak ketinggalan yang putih-biru. Entah apa yang ada di pikiran orang itu, pikirnya. Ada juga orang dengan kostum serupa kembarannya ‘Rossi’ tadi nongkrong di warung kecil, ramai-ramai ngerokok. Bahasa mereka pun lain, kelihatannya mereka sudah fasih.

Dari teras ia mulai beranjak ke dalam rumah, masih mengingat-ingat hal itu. Dari sepanjang perjalanannya pulang tadi dari sekolah sampai di penghujung perlintasan kereta api yang tidak teralu besar, namun selalu padat oleh lalu-lalang orang-orang yang pulang bekerja. Di situ lah ia digeberi ‘Rossi’ dengan motornya. Ia sama-sekali tidak takut karena memang (hampir setiap hari) ia melihat kejadian seperti itu yang baru kali ini terjadi pada dirinya sendiri.

Kehidupan dunia di zaman ini memang sudah tidak sehat lagi, pikirnya. Sepertinya belum cukup jika kader-kader penerus bangsa selanjutnya diamanatkan kepada ‘Rossi’ yang biasa ia lihat itu. “Mereka belum mendewasai apa yang mereka pikirkan. Mereka belum bisa menelaah apa artinya kelakuan yang mereka perbuat itu, apa manfaatnya?”, bisa saja hal-hal ini malah terjadi pada dirinya sendiri? Andai saja ia bisa menghapus semua ini dan menebusnya dengan kebaikan.

Secercah harapan besar yang manis yang baru bisa ia simpan dalam benaknya, setidaknya sampai ia benar-benar beranjak dewasa nanti untuk mewujudkan harapannya itu.

Saat ini ia sedang bermimpi.

⚑ Tanggapan