Ini, Itu?

Ketika seseorang itu adalah seorang manusia biasa, ramah-tamah dan dekat dan sedang berkumpul dengan manusia lain, punya kemampuan, daya pikir, dan keahlian khusus yang rata-rata sama satu dengan yang lain, seseorang itu pun tidak terlihat menonjol di sekelompok orang tersebut.

Gaya hidup, perilaku, dan lingkungan memang menjadi faktor tersendiri untuk orang-orang itu. Satu dengan lainnya tentu akan berbeda apa yang masing-masing mereka alami. Mungkin satu orang lebih memilih yang ‘ini’, seorang lainnya lebih memilih yang ‘itu’. Kecenderungan kebiasaan dan lingkungan-lah yang membuat seseorang akan berbeda jika mereka bertemu kembali setelah mereka pernah berkumpul, bercakap-cakap di masa yang lalu.

Sedikit demi sedikit, orang akan masuk lebih dalam ke dalam lingkungan keseharian masing-masing. Perlahan, perlahan, sedikit demi sedikit. Di saat itulah seseorang melampaui sebuah waktu dan ruang yang tidak dilalui oleh orang lain.

Belajar, mengenali suatu hal, berlatih. Itulah yang setiap orang lakukan, dan itulah mengapa manusia (dan makhluk hidup lainnya) dikatakan ‘tumbuh dan berkembang’.

Namun, walaupun demikian, hanya manusia-lah yang mampu berfikir, menggunakan otak untuk berfikir dan logika.

Setelah cukup banyak apa yang setiap orang serap dan pahami, maka itu akan menjadi kebiasaan, dan tingkah laku baru bagi dirinya. Warna baru dalam dirinya.

Setelah sekian lama seseorang ‘berguru’ dengan lingkungannya itu, tiba-tiba seseorang itu kembali ke kelompoknya lagi setelah beberapa tahun tidak bertemu. Setiap orang tampak berbeda di mata setiap orang di kelompok.

Saat itulah ketika seseorang ‘berguru’ pada lingkungan yang beda dengan rata-rata lingkungan ‘berguru’ orang lain, setelah banyak ilmu baru yang didapat, seseorang itu nampak menonjol di kelompoknya. Orang itu begitu nampak tahu segalanya tentang topik yang kebetulan sedang mereka disukusikan saat itu. Topik itu pun orang itu sendiri yang tentukan. Ketika seseorang ini tahu segalanya, orang-orang di sekelilingnya hanya dapat berdelik bicara di dalam hatinya.

Ini, itu? Apa itu? Nanti apa lagi ya?

Kebingungan mereka tidak akan pernah berakhir karena seseorang yang ‘tahu’ itu memandang bahwa semua orang di sekelilingnya itu telah mengalami sama seperti apa yang Ia sendiri alami dan ketahui.

Ini semua soal waktu, dan kehidupan yang berjalan. Seseorang dengan orang lainnya tidak akan pernah mengalami hal ‘berguru’ yang sama dalam hidupnya.

⚑ Tanggapan