Tragedi Empat Tahunan

Empat tahun yang lalu ketika saya menitih jalan menggunakan sepeda, perlahan melawan arus orang-orang yang terburu-buru melewati jalanan yang pada pagi itu diselimuti debu tebal erupsi Gunung Merapi. Teringat benar waktu itu. Saat pagi menjelang, sudah semalam lebih Yogyakarta dan sekitarnya dihujani debu vulkanik Merapi. Debu tebal menyelimuti seluruh Kulonprogo, tidak luput desa saya. Pagi yang sangat merepotkan saat listrik padam, mobilitas pun juga sulit.

Orang tua saya punya kesibukan masing-masing di instansi sekolahnya sebagai guru. Jadi terpaksa saya harus berangkat sekolah sendiri dengan mengayuh sepeda. Bermodalkan rompi’ jaket, kacu, dan topi merah kebanggaan saya sebelum masuk SMP. Debu vulkanik yang terhempas laju kendaraan bermotor menambah pedih saja di mata. Sekolah yang belum lama di dalamnya saya terdaftar sebagai siswa di sana setelah lulus dari SD pun sudah ada di depan mata. Kemudian saya tuntun sepeda saya ke dalam parkir sekolah. Sebenarnya saya sudah terlambat 10 menit dari jam masuk biasanya, namun di sana masih terlihat lengang. Di kelas, hanya ada beberapa teman saya yang saya temui. Lainnya masih belum berangkat,” kata seorang teman saya.

Tidak lama kemudian, guru wali kelas saya masuk ke dalam kelas bersama beberapa guru piket yang mendampinginya. Barusan ada instruksi dari Dinas Pendidikan untuk meliburkan sekolah tingkat SD dan SMP, jadi kalian boleh pulang dan belajar di rumah,” kata beliau. Sedikit kecewa mendengar kabar tersebut, walaupun sebenarnya saya lega tidak jadi ada KBM sebab seragam saya terkena kotor bersinggungan dengan debu vulkanik yang membalut embun pagi saat perjalanan berangkat sebelumnya.

Hujan Abu
Kondisi di depan rumah.
Hujan Abu
Halaman rumah tetangga.

Lepas dari cerita empat tahun yang lalu itu, kini tragedi tidak diharapkan yang dititeni terjadi dalam rentang waktu empat tahun sekali itu terjadi lagi, pada pagi hari ini sejak dini hari, 14 Februari 2014. Terkejut, saya pikir ini dari Gunung Merapi. Setelah saya cari informasi di internet, ternyata ini akibat letusan Gunung Kelud di daerah Kediri, Jawa Timur. Ini adalah dampak terburuk erupsi gunung berapi yang pernah saya rasakan setelah beberapa kali mengalami hal serupa ini sebelumnya. Sekolah-sekolah juga diliburkan untuk mengantisipasi dampak berbahaya dari debu vulkanik yang masih juga beterbangan. Kondisi tambah diperburuk, saat tulisan ini ditulis pun belum ada sinyal akan turunnya hujan yang diharapkan bisa menyapu semua debu tebal ini. Memang tadi pagi sekali sempat gerimis, namun tidak jadi hujan.

Semoga saudara-saudara kita yang ada di sekitar Gunung Kelud selalu diberi keselamatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Aamiin.

Tampilkan komentar