Rekayasa Pengenyang Perut

jurnal

Ilustrasi
Unsplash @sharonchen

Bangun menyertai jago berkokok adalah kebiasaan ibu saya. Untuk salat tahajud dan menyiapkan segalanya bagi kami keluarga tercinta.

Ibu adalah seorang guru. Meski rasanya dari waktu tersebut sampai waktunya berangkat ke sekolah lumayan panjang, nyatanya ibu tak selalu sempat memasak untuk kami semua. Bagi seorang anak yang sedikit sekali membantu, saya tidak komplain kalau ibu tidak memasak melainkan beli sayur di luar.

Sayangnya, saya bukan tipikal orang yang mudah bisa menikmati masakan orang lain. Ketika makanan yang dibeli ibu kurang saya sukai, saya hanya sedikit mengambilnya. Sering karena saya dan adik saya hanya mengambil sedikit, makanan itu kemudian terlupakan.

Ibu adalah seorang yang paling peka terhadap kami anak-anaknya. Usai dari sekolah beliau membawakan kami masakan yang lebih enak, yang tentu kami menyukainya.

Oh, lantas dikemanakan makanan sisa tadi pagi?

Ibu paling pintar merekayasa masakan orang lain. Dalam beberapa menit, ibu mencampurnya dengan beberapa bumbu, menambahnya dengan beberapa bahan, dan… Simsalabim, jadilah makanan enak!

Makanan itupun lahap kami santap malam harinya.

Terkadang saya sadar kalau itu makanan hasil rekayasa ibu, terkadang tidak. Yang penting kami suka.

Ibu memang hebat!

Dirgahayu ibu, dirgahayu Ibu Pertiwi! Ibu tetaplah yang pertama.